Pulau Ende, 18 November 2025 Upaya menghadirkan akses air tawar di Pulau Ende kembali menunjukkan hasil positif. Pembangunan sumur air tawar di Desa Redodori, tepatnya di lingkungan Mushola As Sani, berhasil mengeluarkan air tawar dan kini dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Keberhasilan ini menjadi capaian penting bagi warga yang selama ini menghadapi kesulitan mendapatkan air layak konsumsi.

Pulau Ende dikenal sebagai salah satu wilayah yang paling terdampak krisis air tawar. Letak geografis yang dikelilingi laut serta lapisan tanah berpasir membuat kandungan air tanah cenderung asin sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan sumber air tawar. Selama bertahun-tahun warga mengandalkan penampungan air hujan atau harus menempuh jarak jauh untuk memperoleh air tawar guna kebutuhan sehari-hari.
Pengerjaan sumur di Mushola As Sani juga menghadapi tantangan serupa. Titik pengeboran berada sangat dekat dengan garis pantai sehingga memiliki risiko tinggi kontaminasi air asin. Selain itu, pasir yang mudah luruh selama proses pengeboran berkali-kali memperlambat pekerjaan. Para teknisi harus bekerja dengan ketelitian tinggi untuk menjaga struktur pengeboran tetap stabil hingga mencapai kedalaman yang cukup untuk mendapatkan sumber air tawar.
Hasil kerja keras tersebut membuahkan hasil. Pada kedalaman 44 meter, sumur akhirnya mengeluarkan air tawar dengan debit 10 liter setiap satu menit 15 detik. Aliran air yang stabil menjadi tanda bahwa sumber air ini layak dimanfaatkan untuk aktivitas masyarakat sekitar. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi capaian teknis, tetapi juga menjawab kebutuhan paling mendesak warga: ketersediaan air tawar yang selama ini sulit diperoleh.
Harapan besar masyarakat Desa Redodori terlihat jelas sepanjang proses pembangunan. Warga memantau jalannya pengeboran setiap hari dan memberikan dukungan moral kepada para pekerja karena kebutuhan air tawar selama ini menjadi persoalan utama dalam kehidupan mereka. Banyak warga mengaku menunggu kabar terbaru dari lokasi pengeboran sembari berdoa agar prosesnya berjalan lancar.
Takmir Mushola As Sani, Mansur Motu, menyampaikan bagaimana pentingnya keberhasilan sumur ini bagi masyarakat. “Warga berharap sekali. Setiap hari mereka berdoa agar para pekerja diberi kemudahan, karena semua ingin sekali merasakan air tawar di sini,” ujarnya. Menurutnya, hadirnya sumber air tawar bukan hanya menyelesaikan kebutuhan fisik, tetapi juga membawa rasa lega dan kebahagiaan bagi seluruh warga.

Sumur air tawar ini kini mulai dimanfaatkan untuk beragam kebutuhan seperti wudu dan aktivitas peribadahan di mushola, memasak, mencuci, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya. Akses air tawar yang lebih dekat dan terjangkau diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mengurangi beban waktu dan biaya yang sebelumnya dihabiskan untuk mendapatkan air tawar dari lokasi lain.
Pembangunan sumur di Desa Redodori menjadi langkah lanjutan dari rangkaian program sosial kemanusiaan yang fokus pada penyediaan akses air tawar untuk wilayah yang rawan kekeringan dan minim sumber air tawar. Program ini kembali membuktikan komitmen untuk memberikan solusi jangka panjang dan tepat sasaran bagi masyarakat yang membutuhkan.