LAZNAS AL IRSYAD

Warga Palestina di wilayah Jabalia dan Beit Lahia, Jalur Gaza utara, kembali mengantri bantuan kemanusiaan pada Senin, 16 Juni 2025. Mereka menyambut kedatangan truk-truk bantuan yang memasuki wilayah tersebut melalui pos perbatasan Zikim. Truk tersebut membawa bantuan berupa tepung, minyak goreng, dan makanan pokok lainnya yang sangat dibutuhkan warga. Namun di tengah proses distribusi, serangan mendadak dilancarkan oleh militer zionis Israel, menargetkan kerumunan warga yang tengah mengantri bantuan. (Jum’at, 20 Juni 2025)

Saat proses distribusi bantuan masih berlangsung, suara tembakan tiba-tiba terdengar dari arah barat laut lokasi. Kepanikan seketika menyelimuti warga yang tengah mengantre. Suasana yang semula tertib berubah menjadi kacau. Warga berlarian mencari tempat berlindung di balik bangunan runtuh atau tumpukan puing. Sebagian menjatuhkan kantong bantuan yang baru saja mereka peroleh, sementara yang lain tetap memeluk erat barang-barang itu sambil berlari.

Ahmed Jamil, salah satu korban selamat menyebut peristiwa itu sebagai jebakan. “Seolah mereka bermain game pemburu dan makanan dengan kami,” katanya. “Kami diserang sampai tubuh kami hancur, sampai tak dikenali. Aku hampir tak pernah kembali ke anak-anakku.”

Serangan itu menambah daftar panjang kekerasan terhadap warga sipil di tengah krisis kemanusiaan yang memburuk. Israel diketahui telah memberlakukan blokade total terhadap pasokan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok sejak 2 Maret. Blokade itu menyebabkan kelaparan meluas dan sistem pelayanan kesehatan semakin lemah.

Menurut data otoritas setempat, saat ini lebih dari 90 persen warga Gaza kehilangan tempat tinggal akibat gempuran yang terus berlangsung sejak awal konflik. Sebagian besar dari mereka tinggal di tenda-tenda darurat, bangunan sekolah yang dialihfungsikan, atau di bawah puing-puing rumah yang sudah tak layak huni. Dalam kondisi ini, bantuan internasional menjadi satu-satunya sumber kehidupan yang tersisa.

Akses terhadap bantuan pun semakin sulit. Serangan di sekitar titik distribusi membuat proses penyaluran bantuan menjadi berisiko tinggi, baik bagi petugas maupun penerima bantuan. Organisasi-organisasi kemanusiaan melaporkan bahwa pengiriman bantuan kini harus melalui prosedur yang panjang dan kerap berujung penundaan atau pembatalan di menit-menit terakhir karena alasan keamanan.

Banyak truk bantuan yang tertahan di perbatasan selama berhari-hari, sebagian bahkan terpaksa kembali karena tidak mendapatkan izin masuk. Situasi ini menciptakan ketegangan tambahan di lapangan. Ketika bantuan akhirnya tiba, jumlahnya tidak sebanding dengan kebutuhan yang ada. Warga harus berjuang dalam antrean panjang di tengah panas, kelaparan, dan rasa takut akan serangan sewaktu-waktu.

Penduduk Palestina masih berjuang di tengah konflik yang tak kunjung berakhir. Doa dan bantuan dari para muhsinin sangat berarti bagi mereka. Mari bersama LAZNAS Al Irsyad salurkan hadiah terbaik bagi saudara kita di Palestina melalui Bank Mega Syariah ( kode bank 506 ) No rekening 2009116900 dan Bank Syariah Indonesia ( kode bank 451 ) No rekening 715 735 7551.

Kami ucapkan Jazakumullah Khairan Katsiran kepada para muhsinin yang telah menyalurkan zakat dan sedekahnya untuk kami Kelola. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rezeki yang berlipat, Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Protected By
Shield Security