Kelompok Palestina Hamas dan Zionis Israel telah menyetujui perjanjian gencatan senjata. Gencatan senjata mencakup pertukaran sandera dan tahanan setelah 15 bulan peperangan (Kamis, 16 Januari 2025)
Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani, mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Palestina dan zionis Israel dalam sebuah konferensi pers. “Kedua pihak yang bertikai di Jalur Gaza telah sepakat mengenai tahanan dan pertukaran sandera. (Para mediator) juga mengumumkan gencatan senjata dengan harapan dapat mencapai perdamaian permanen antara kedua belah pihak,” ujar Sheikh Mohammed, seperti dikutip oleh AFP.

Qatar, sebagai mediator perdamaian, mengonfirmasi bahwa kesepakatan gencatan senjata terdiri atas tiga fase. Pada fase pertama, Hamas akan membebaskan 33 warga zionis Israel yang ditawan di Gaza, termasuk perempuan, anak-anak, dan warga sipil berusia di atas 50 tahun. Sementara itu, zionis Israel akan membebaskan lebih banyak tahanan Palestina selama fase ini. Israel juga akan menarik pasukannya dari wilayah Gaza dan mengizinkan warga sipil kembali ke rumah mereka di bagian utara. Selain itu, 600 truk bantuan akan diizinkan masuk ke Gaza setiap hari. Pada tahap ini, zionis Israel juga akan mengizinkan warga Palestina yang terluka untuk meninggalkan Gaza. Penyeberangan Rafah dengan Mesir akan dibuka tujuh hari setelah tahap pertama dimulai untuk memudahkan warga Gaza mendapatkan perawatan medis.
Fase kedua, Hamas akan melepaskan semua tawanan yang masih hidup sebagian besar adalah tentara laki-laki dengan imbalan atas pembebasan lebih banyak warga Palestina yang ditahan di Penjara. Sedangkan pada fase ketiga, jika persyaratan telah terpenuhi, jenazah tawanan yang tersisa akan diserahkan sebagai imbalan atas rencana rekonstruksi tiga hingga lima tahun yang akan dilakukan dibawah pengawasan internasional.

Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas dijadwalkan mulai berlaku pada Ahad, 19 Januari 2024. Gencatan ini tercapai setelah ribuan korban jiwa berjatuhan. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sebanyak 46.707 orang tewas akibat serangan dan krisis. Selain itu, 1.600 keluarga dihapus dari catatan sipil, 17.841 anak menjadi korban tewas, dan 44 orang meninggal akibat kekurangan gizi.
Sami Abu Zuhri, salah satu pejabat Hamas menyebutkan bahwa kesepakatan gencatan senjata di Gaza sebagai sebuah pencapaian besar yang mencerminkan keberanian dan keteguhan rakyat Gaza serta perjuangan perlawanan mereka. “Ini juga menegaskan kegagalan penjajah untuk mencapai salah satu tujuannya,” ujar Sami Abu Zuhri dalam pernyataannya kepada Reuters.
Semoga informasi ini menjadi pengingat sekaligus penguat keimanan kita sebagai umat Islam, serta membangkitkan rasa peduli terhadap perjuangan saudara-saudara kita di Palestina. Ketabahan dan keteguhan mereka dalam menghadapi ujian yang begitu berat adalah sumber inspirasi luar biasa bagi kita semua. Mari terus doakan agar mereka senantiasa diberikan kekuatan dan perlindungan, serta agar keadilan dan perdamaian segera terwujud di tanah mereka. Jangan pernah lupa untuk menyebut mereka dalam setiap doa kita, karena dukungan dari umat Muslim di seluruh dunia adalah bagian penting dari perjuangan mereka untuk meraih kebebasan dan martabat.